Beluk merupakan salah satu kesenian rakyat yang terdapat di daerah Jawa Barat. Kesenian ini termasuk ke dalam jenis seni suara. Seringkali dalam prakteknya, kesenian rakyat ini tidak diiringi oleh instrumen musik. Kekuatan dari kesenian Beluk ini terletak pada permainan frekuensi suara para pemainnya yang berjumlah empat orang atau lebih.
Berbeda dengan “nembang” atau seni suara yang lainnya, kesenian Beluk tidak menembangkan atau menyanyikan syair yang digunakan, tetapi hanya membaca dengan memainkan tinggi-rendahnya frekuensi suara. Syair yang biasa digunakan dalam pementasan seni Beluk pun harus berasal dari naskah-naskah yang bersumber dari “Carita Babad” (Wawacan). Wawacan yang diangkat pun sangat beragam antara lain; Angling Dharama, Arjuna Sasrabahu, Danu Maya, Damar Wulan, Dewaruci, Sangkuriang, Ogin, Ali Muhtar, Sulanjana, dll. Karena seni Beluk ini sangat erat kaitannya dengan Wawacan, maka tentu saja dalam prakteknya, kesenian ini pun tidak dapat terlepas dari berbagai aturan pupuh mulai dari Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dandanggula.
Karakter Seni Beluk
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan merupakan hasil cipta, karya dan rasa manusia. Berkaitan dengan hal ini, tentu saja seni adalah salah satu karya dari kebudayaan. Banyak unsur yang mempengaruhi seni dan budaya yang lahir dan berkembang di kelompok-kelompok masyarakat, salah satunya adalah unsur geografis. Unsur inilah yang kemudian berperan sangat penting dalam lahirnya keanekaragaman seni dan budaya di Nusantara, tak terkecuali bagi seni Beluk dan budaya Sunda yang menaunginya.
Jawa Barat memiliki kondisi geografis yang sangat beragam, salah satunya adalah wilayah dataran tinggi di bagian tengah yang didominasi oleh barisan pegunungan. Di wilayah dataran tinggi ini sebagian masyarakatnya hidup dalam tatanan budaya agraris. Tatanan inilah yang kemudian menjadi rahim dari kesenian Beluk.
Lahir diantara kehidupan sosial masyarakat agraris, tentu saja kesenian Beluk ini memiliki karakter-karakter yang mewakili identitas dari masyarakat tersebut. Spontanitas dan kesederhanaan dari masyarakat agraris jelas terlihat dalam kesenian Beluk. Hal ini dibuktikan dengan kostum yang dipakai oleh para seniman yang akan memainkan Beluk. Mereka hanya memakai pakaian sederhana seperti baju takwa, sarung, kopeah, dan celana panjang, pakaian-pakaian ini tentu saja adalah pakaian keseharian dari masyarakat tersebut. Salah satu contohnya lagi adalah suara yang melengking ketika para seniman Beluk melantunkan Wawacan. Frekuensi suara yang tinggi tersebut merupakan bentuk representasi komunikasi antara para petani yang sedang meladang, karena posisinya saling berjauhan, mereka membutuhkan suara yang keras dan kencang agar dapat saling berkomunikasi.
Dalam penyajiannya, kesenian Beluk ini membutuhkan sekurang-kurangnya empat orang, yang masing-masing berperan sebagai (1) Tukang Ngilo, yang berperan membaca Wawacan syair demi syair dalam tempo sedang dengan artikulasi yang jelas, (2) Tukang Ngajual, yang berperan untuk mengulang syair Wawacan yang dibacakan oleh Tukang Ngilo, (3) Tukang Meuli, yang berperan untuk melanjutkan syair Wawacan yang dibacakan oleh Tukang Ngajual dengan tambahan ornamen-ornamen, (4) Tukang Naekeun, yang berperan untuk melanjutkan syair Wawacan yang dibacakan oleh Tukang Meuli, dengan improvisasi suara yang melengking dan meliuk-liuk disertai pula dengan ornamentasi yang lengkap, artikulasi syair yang disajikan oleh Tukang Meuli ini akan terdengar tidak jelas.
Dari pembagian peran pada penyajian kesenian Beluk tersebut dapat dilihat aspek gotong-royong, kerja sama, dan komunikasi dalam mencapai sebuah keharmonisan. Aspek-aspek tersebut tentu saja merupakan aspek yang menjadi ciri khas dari sebuah tatanan sosial masyarakat agraris. Tidak berlebihan tentunya jika dikatakan bahwa kesenian Beluk merupakan salah satu identitas tatanan budaya masyarakat agraris Pasundan.
Sebagai sebuah identitas tatanan budaya masyarakat, kehidupan kesenian Beluk pada zaman modern ini ternyata mengalami banyak masalah, terutama masalah regenerasi. Sebuah masalah klasik yang memang dihadapi oleh berbagai seni tradisi di Nusantara. Keberadaan komunitas kesenian Beluk pada masa sekarang dapat dihitung dengan jari, beberapa yang masih berjuang mempertahankan kesenian buhun (kuno) ini adalah Seni Beluk Pusaka Mekar, Kampung Cipulus, Desa Pasagiran, Tanjungsari-Kab.Sumedang dan Seni Beluk, Desa Cijambu, Tanjungsari-Kab. Sumedang. Identitas sebuah budaya daerah, tentunya merupakan identitas budaya Nasional juga, miris sekali rasanya jika kepedulian generasi muda justru terletak pada hal lain yang jelas-jelas bukan identitas bangsanya. Kesenian Beluk benar-benar menunggu uluran kepedulian para penerus-penerusnya agar seni tradisi yang luhur ini masih tetap hidup dan berkembang meski harus berkompromi dengan gaya yang lebih modern.(pj)